Wednesday, March 23, 2011

cahaya bulan

Pernah nonton film tahun 2007 yang berjudul GIE ??...film indonesia yang pemeran utamanya Nicholas Saputra, tapi sekarang gw bukan mau bahas pemainnya :p (maaf bagi para penggemarnya). Di film ini ada sebuah puisi yang diucapkan oleh si Nicholas Saputra yang pada film ini berperan sebagai gie, gie meningglakan sebuah surat untuk ira (waniita yang menjadi sahabat gie dan sama-sama memiliki rasa tetapi tidak berani melanjutkan hubungan ) dan isi surat itu adalah puisi yang mengutarakan perasaan gie pada ira. Ga tau kenapa, puisi ini touching banget buat gw, gw emang bukan pengagum karya sastra dalam bentuk puisi, tapi untuk puisi yang ini...gw amat suka dan bisa dibilang terseret perasaan ke dalam puisi ini (agak lebay sih...but thats true). Well, ga usah panjang lebar lagi..nie isi puisi favorit gw :




Cahaya Bulan
akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
 apakah kau masih selembut dahulu memintaku minum susu
sambil membenarkan letak leher kemejaku
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
 lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan” yg menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
 ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat
apakau kau masih akan berkata
kudengar dekap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati




Tuesday, March 22, 2011

memberi seperti yang didapat

Hari minggu tanggal 20 maret 2011 yang lalu saya ke Jakarta dengan kakak saya, sekedar berjalan-jalan sambil cuci mata di kawasan blok M. Kami pulang sekitar puku 16.30 wib dengan menggunakan bis kota (tanpa AC !!!), seperti biasa suasana bis begitu pengap dan berisik dengan teriakan para penjual asongan yang datang dan pergi, nyanyian pengamen dari anak-anak sampai orang tua.


Di tengah perjalanan naik 2 atau 3 orang (maaf saya agak lupa) laki-laki muda sekitar 20th an dengan pakaian ala rock and roll, mereka mengatakan kalimat-kalimat pembuka seperti biasanya yang dilakukan untuk meminta uang, sampai... salah seorang maju ke depan barisan bangku bis, ia mengeluarkan sebuah silet dan mengatakan sudah tidak tahu lagi bagaimana harus mencari uang,jika memang dengan memakan silet ini baru bisa mengetuk hati para penumpang maka akan dia lakukan. Dia pun mulai mengigit silet itu sedikit demi sedikit dan memang hanya sedikit...temannya yang lain mengatakan kalimat-kalimat respon dari atraksi si pemuda itu, "ati-ati bro.." dsb.


Atraksi selesai, si pemuda dan kawannya mengeluarkan kantong untuk menerima uang pemberian dari para penumpang dengan diiringi kalimat-kalimat meminta belas kasihan. Dari baris bangku pertama tidak memberikan uang dan mengatakan kalimat yang  menyindir, baris ke dua juga tidak dan baris ketiga (tempat saya dan kakak saya duduk) juga tidak memberikan uang, kemudian dia berteriak setengah suara a*ji*g !!! ... saya tidak terlalu mengerti apakah perkataan itu ditujukan pada saya dan kakak saya atau bagi semua penumpang yang tidak memberi uang. Kemudian setelah baris bangku saya duduk, para penumpang kebanyakan memberikan uang dan pemuda itu dan kawannya berkata dengan sangat ramah..."terimakasih ya pak", terimakasih ya bu".


Saya jadi teringat dan berpikir, bukankah kita manusia kebanyakan seperti itu...kita begitu baik kepada orang yang bisa memberikan apa yang kita perlukan apa yang kita inginkan, kita begitu menghormati begitu menyanjung dan begitu lainnya, tetapi jika kita tidak mendapat apa yang kita harapakan dari orang lain sikap kita secara refleks, secara seketika itu juga berubah. Entah sikap, bicara ataupun ekspresi muka menampakkan kemarahan atau kekecewaan terhadap orang tersebut.


Memberi seperti yang kita dapat, memberi sesuai apa yang orang lain beri...ahhh...sungguh manusia adalah makhluk yang tidak ingin rugi, manusia begitu ingin mendapat dan memberi yang setimpal. Padahal kebenarannya adalah...LOVE IS SELFLESS.

Wednesday, March 2, 2011

lakukan apapun selama bisa dipertanggung jawabkan

            Jumat pada tanggal 18 Februari 2011 lalu saya mendapatkan sebuah panggilan wawancara. Saya melamar sebagai admin, memang sangat jauh dari jurusan yang saya pelajari selama ini, saya lulusan pertanian. Bagi seorang sarjana pertanian seperti saya yang tinggal di ibu kota dan bergender wanita lumayan sulit untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saya.

            Saya harus belajar realistis dan membuka diri pada peluang yang ada, maka kesempatan saya dalam wawancara kali ini pun tidak ingin saya lewati. Ketika wawancara, saya sedikit terkejut...kepala sekolah yang mewawancarai saya malah menawari saya posisi sebagai GURU. Oh iya, saya belum menjelaskan bahwa panggilan kali ini dari sebuah sekolah swasta internasional yang memiliki kurikulum independen (tidak sama dengan sekolah internasional lainnya). Singkat cerita saya menerima tawaran itu, saya sangat membutuhkan pekerjaan !!! Tetapi saya diberikan waktu sampai hari senin tgl 21 Februari 2011 untuk berpikir, apakah saya ingin bergabung atau tidak. Saya pun berpikir dengan perasaan bahagia tentunya, karena akhirnya saya diterima di suatu pekerjaan. Pada hari senin, saya menelepon pihak sekolah dan mengatakan saya ingin mencoba untuk bergabung. Lalu keesokan harinya saya mulai masuk kerja, pukul 07.30 wib. Dunia berubah seketika.

            Selasa adalah hari pertama saya secara resmi bekerja, sebagai asisten guru (karena trening dulu 3 bulan). Pada hari itu kepala sekolah tidak berada di tempat, yang ada seorang wakil kepala sekolah (belakangan saya baru tahu), dia sepertinya tidak tahu bahwa ada seorang new commer yang akan bergabung hari itu. Sedikit salah komunikasi wajar terjadi bukan? Saya pun mendapat teguran kecil mengenai disiplin pada waktu itu. Sungguh hari pertama yang amat indah J

            Hari rabu dan kamis saya jalani dengan perasaan semakin bertanya-tanya dalam hati, inikah tempatnya?inikah tempat yang tepat untuk saya memenuhi panggilanNya?Saya bukan orang yang takut belajar hal baru, saya juga bukan orang yang takut menerima teguran dan saya bukan orang yang termasuk mudah menyerah, tapi saya bukan orang yang bisa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati. Saya percaya bahwa hati nurani adalah sebuah radar kecil yang begitu sensitif akan suatu kondisi dan keadaan yang kita hadapi.

            Sampai akhirnya saya mendapat teguran yang keras (menurut saya), pada hari kamis setelah jam pulang, kepala sekolah memberikan saya surat kontrak kerja untuk dibaca dan di tanda tangani, besok sudah harus dikembalikan. Kemudian saya membacanya di angkot saat perjalanan pulang, surat kontrak kerja itu terdiri dari beberapa lembar (+/- 4 lembar) tapi saya hanya membacanya dihalaman 1 & 2 secara singkat dan pada halaman berikutnya saya hanya membaca judul pasal, lalu surat kontrak itu saya lipat dan saya masukan kedalam tas. Saya berpikir keras untuk mengambil sebuah keputusan yang tidak mau saya sesali, apa benar saya ingin menjadi seorang guru?apa benar dunia pendidikan adalah sesuatu yang memenuhi passion saya? Kemudian saya mengirimkan sms kepada beberapa teman saya dan pemimpin kelompok kecil saya untuk meminta saran. Pada kesimpulannya memang semua keputusannya ada ditangan saya, mereka tidak memberikan jawaban iya dan tidak, mereka membantu saya agar berpikir lebih luas dan dalam.

            Ada tiga point yang amat mendasari keputusan saya, yaitu: hati, idealisme dan pertanggung jawaban. Saya mereview kembali suasana ditempat kerja saya, tidak ada yang salah sepertinya, masalah tantangannya pun saya yakin saya bisa atasi, lalu pada point pertanggung jawaban saya baru menyadari...setiap orang yang bekerja disana begitu menyukai pekerjaan mereka, begitu setia, begitu bertumbuh dan mereka begitu siap untuk mempertanggung jawabkan profesi mereka dihadapan Tuhan. Kemudian saya menilai diri sendiri, dari awal saya tidak pernah berniat selamanya berkomitmen didunia pendidikan, apalagi sebagai guru, saya hanya berniat cari uang !... Alangkah piciknya saya, secara tidak langsung saya sudah merendahkan profesi yang mulia itu. Saya hanya berniat mencoba lalu meninggalkan pekerjaan itu, jika ada yang lebih menarik. Kaka saya mengatakan dunia pendidikan itu perlu komitmen seumur hidup, butuh konsentrasi dan fokus besar untuk menjadi seorang guru, sedangkan saya sampai pada hari diberikan kontrak dan telah melihat situasi sekolah, tidak merasa apa-apa, tidak merasa terbeban dan antusias (karena ada diluar itu yang menjadi tujuan saya).

            Saya harus bersikap dewasa, seperti yang dikatakan pemimpin kelompok kecil saya...semua harus dipertanggung jawabkan. Saya merasa saya tidak siap untuk mempertanggung jawabkannya jika saya menjadi guru, saya belum mempunyai hati untuk berkomitmen di bidang itu dan saya tidak mau coba-coba, seperti mencobai Tuhan mengenai pangggilan hidup, sedangkan disana setiap guru diawali motivasi yang rindu mengajar. Saya berdoa kepada Tuhan dan meminta ampun karena motivasi saya telah salah dan saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Keesokan harinya (jumat), saya datang seperti biasa dan mengikuti doa pagi disekolah, setelah itu saya meminta waktu kepada kepala sekolah untuk berbicara mengenai penanda tanganan kontrak. Selama perjalanan berangkat ke sekolah saya telah bergumul, mungkin nanti kepala sekolah akan marah, akan kecewa, saya akan berbicara dengan tidak baik dan lain sebagainya, tapi yang terjadi tidak demikian. Saya berbicara dengan  lancar dan bisa dibilang cukup diplomatis (hehehe) dan kepala sekolah mendengarkan dengan sabar dan menganggukan kepala dan ia mengerti, lalu saya memberikan surat kontrak dan kami pun bersalaman. Saya pamit pulang dengan perasaan yang lega luar biasa... J

            Memang sepertinya 1 minggu saya kebelakang sepertinya sia-sia, tidak menghasilkan apa-apa di mata orang, tapi dalam hidup saya ini adalah moment yang mendewasakan saya mengenai tanggung jawab pekerjaan, ini adalah proses yang demikian berharganya membentuk saya menjadi pribadi yang harus belajar peka akan keadaan yang harus segera saya meresponinya dan saya telah belajar untuk berani mengambil keputusan dengan konsekuensinya sekaligus. Semoga Tuhan, sumber segala rahmat menuntun perjalanan saya dalam mendapatkan panggilan hidup yang berkenan kepadaNya.



Memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat kita adalah pelik seperti memilih jodoh. Kita harus setia, berakar dan bertumbuh dalam pekerjaan itu.
-Andar Ismail (Selamat berkarya)-

Saturday, February 12, 2011

mengapa menyebut diri berkeTuhanan Yang Maha Esa



Sepertinya baru kemarin kita merasakan persaudaraan yang erat ketika terjadi bencana di mentawai dan bencana merapi di yogyakarta, hampir semua masyarakat Indonesia yang ada di negeri ini dan diluar negeri sana bersama-sama dan beramai-ramai up date twitter dan facebook dengan status turut berduka kepada para korban bencana alam dan mengirimkan bantuan berupa dana dan barang-barang yang diperlukan dan setiap pemeluk agama yang adalah masyarakat Indonesia memanjatkan pokok doa yang sama, yaitu berdoa bagi keadaan negeri ini yang mengalami hal-hal yang begitu berat (bahkan artis-artis hollywood berdoa bagi ibu pertiwi kita).

          Setelah persaudaraan kita terasa lebih erat lewat kejadian yang memilukan itu, kita kembali dipersatukan dengan semangat yang berapi-api ketika berlangsungnya pertandingan AFF yang membawa TimNas kebanggaan kita menjadi runner up,  saling menyemangati dan menguatkan sepanjang pertandingan berlangsung di setiap tahapan bahkan disaat kegagalan mendapat juara pertama pun setiap masyarakat tetap menyatakan kecintaan dan kebanggaanya terhadap Indonesia dan khususnya kepada TimNas, kita merasa begitu merasa sedarah, merasa begitu sepaham, merasa begitu satu spirit untuk bangsa kita tercinta ini...


PANCASILA :
1. KeTuhan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia


          Namun sepertinya semua rasa persaudaraan itu menguap begitu saja, seperti tanpa ada bekas, sepertinya hal itu semua terjadi pada bangsa lain bukan di negeri dimana kita berada sekarang, terlalu berbeda dengan kenyataan yang terjadi sekarang, terlalu...terlalu...terlalu...memilukan dibandingkan dengan bencana alam yang terjadi, dibandingkan kekalahan TimNas kita saat melawan Tim Malaysia di negeri sendiri.

          Bukannkah kita menyebut diri kita, bangsa yang begitu memegang idealisme begitu kuat bahkan setiap senin di pagi hari selama bertahun-tahun setiap kita yang merasakan bangku pendidikan sudah didoktrin dengan idealisme itu dengan tujuan agar setiap kita menjadi masyarakat yang memiliki nilai-nilai nasionalisme yang luhur dan penuh budi pekerti itu.
          Tapi itupun sepertinya tidak membentuk setiap pribadi menjadi berkeTuhanan, berkemanusiaan, bersatu, berkerakyatan dan kerkeadilan. Entah apa yang salah? Apakah salah setiap pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan? Apakah salah para pahlawan tanpa tanda jasa itu? Apakah salah kegiatan setiap senin di pagi hari itu? Atau salah setiap kita yang tidak mampu menyerap idealisme itu? Atau terlalu idealis kah idealisme itu? Sampai begitu sulit setiap kita melaksanakannya....


Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia
telah sampailah pada saat yang BERBAHAGIA...


Entah kapan saat berbahagia berkeTuhanan Yang Maha Esa itu terwujud...
Entah kapan saat berbahagia berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat itu terwujud...
Entah kapan saat berbahagia itu ber-persatuan itu terwujud...
Entah kapan saat berbahagia berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan itu terwujud...
Entah kapan saat berbahagia keadilan sosial bagi seluruh rakyat itu terwujud...

Karena bila suatu saat itu semua terwujud...maka kita akan menjadi BANGSA YANG PALING BERBAHAGIA...

Saturday, January 29, 2011

musuh yang paling berarti

Untukku kamu adalah musuhku begitu sebaliknya...terlalu banyak perbedaan...terlalu banyak hal yang diperdebatkan dan terlalu banyak...terlalu banyak lainnya yang membuat kita semakin menjadi musuh...

Untukku kamu adalah musuhku karena dari luar sepertinya kita saling mendukung padahal kita saling bersaing...dalam banyak hal tanpa kita sadari dan tanpa perlu ditunjukkan...

Untukku kamu adalah musuhku begitu banyak hal yang ingin kumiliki dari kelebihanmu bahkan dari kekuranganmu, semakin aku mengenalmu semakin aku tahu bahwa aku adalah musuhmu dan kamu adalah musuhku...

Untukku kamu adalah musuhku saat kita bertengkar mengenai banyak hal, mengenai cara pandang, mengenai selera, mengenai sikap, mengenai apa yang baru kita dengar, apa yang baru kita lihat dan apa yang baru kita ketahui... selalu kita perdebatkan...

Untukku kamu adalah musuhku sampai saat ini ... saat dimana kita tidak bersama-sama lagi ... saat kita terpisah jarak ... saat kudengar kabar bahwa kamu sudah mendapatkan hal yang istimewa, hal yang tanpa kita sadari yang saling kita pertanyakan pada diri masing-masing...siapa yang akan lebih dulu... ternyata masih tetap sama...bahkan disaat yang membahagiakan ini pun, kamu masih tetap musuhku...musuh yang paling berarti...musuh yang paling mengenal diriku...musuh yang paling kutunggu cerita hidup selanjutnya bersama hal istimewa yang telah kau dapatkan.

untuk saat ini pilihan hanya dua

Dr. Cai Ming Jie, seseorang Ph. D lulusan Stanford University, memutuskan untuk menjadi seorang sopir taksi setelah kehilangan pekerjaannya. Dr. Cai Ming Jie tidak hanya berani menghadapi hidup dengan melakukan pekerjaan yang mungkin jauh dari impiannya, tetapi juga berusaha melakukan yang terbaik. Ia mencatat pengalamannya sebagai sopir taksi dalam sebuah blog : A Singapore Taxi Driver's Diary. Itu menjadikannya bukan "sopir taksi biasa"


Renungan Harian, Januari 2011

Hal tersebut juga dialami oleh yusuf yang pernah mempunyai pekerjaan yang bukan merupakan impiannya. Ia menjadi budak jelas ini bukan cita-cita yusuf (apalagi saya?). Si anak orang kaya (keturunan yakub). Selain yusuf menjadi budak, ia bahkan turun lebih rendah lagi menjadi seorang narapidana. Situasi sulit yang dihadapi yusuf ...hanya ada dua pilihan, pada saat ia menjadi budak karna tanpa daya ia dijual dan harus menjadi budak. Pilihannya adalah sekedar menjadi budak atau menjadi budak yang baik dan pada saat ia menjadi narapidana juga pilihannya adalah sekedar menjadi narapidana atau menjadi narapidana yang baik. Hal itu menjadikan dia bukan "budak biasa" dan bukan "narapidana biasa", ia memiliki kuasa di lingkungan ia berada dan ia tidak menjadi rendah melainkan ditinggikan dalam lingkungannya dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar; antara lain :


Pada saat menjadi budak :
Yusuf diberikan kuasa atas rumah tuannya dan segala milik tuannya diserahkan pada kekuasan yusuf (cotohnya : ladang, ternak,dll)


Pada saat menjadi narapidana :
Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara dan mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada yusuf dan segala pekerjaan yang harus dilakukan disitu yusuf lah yang mengurusnya. Bahkan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada yusuf.




Hal yang dialami Dr. Cai Ming Jie dan Yusuf saat ini juga saya alami, sama-sama mengalami kondisi yang tidak diimpikan, kondisi yang hanya akan memberikan dua pilihan yaitu sekedar menjadi atau bukan sekedar menjadi. Saat ini status sosial saya adalah jobless atau bahasa halusnya sedang mencari pekerjaan, tapi saya memilih taat seperti yusuf, tetap berusaha untuk yang terbaik. Mungkin anda juga pernah mengalami kondisi yang tidak diharapkan, tidak ada pilihan untuk tidak menerima kondisi tersebut, tapi akan selalu ada dua pilihan dan hanya dua. Apakah anda hanya sekedar menjadi atau bukan sekedar menjadi orang yang mengalami suatu kondisi.

Friday, January 14, 2011

menimbun yang tidak seharusnya ditimbun

Postingan pertama di tahun 2011 akhirnya muncul juga ;))

Pada tanggal 12 januari 2011 setelah 13 tahun menetap di rumah yang lama, saya dan keluarga saya pindah rumah, dan pada hari itu malam pertama kami menempati rumah baru. Dari pengalaman saya pindahan (maklum mantan anak kos yang sering pindah-pindah kos) hal yang paling menyebalkan dari acara pindahan adalah mengatur barang kembali ke posisi yang tepat di tempat tinggal baru, untuk barang 1 orang saja sudah repotnya minta ampun, apalagi kali ini 1 keluarga yang pindahan beranggotakan 6 orang, bisa terbayang seperti apa tumpukkan barang-barang yang ada???....

Begitu banyak barang, begitu banyak tenaga yang harus dikeluarkan untuk mengatur dan begitu banyak pemandangan berantakan yang terlihat oleh mata...melihat hal itu semua saya jadi berpikir, mengapa bisa barang sebanyak ini kami miliki? mengapa kami bisa menyimpan barang-barang ini semua selama ini? karena begitu banyak barang yang sebenarnya tidak perlu kami simpan dan sudah tidak berguna lagi, hal yang unik muncul...saya dianggap terlalu mudah membuang barang oleh keluarga saya, sedangkan orang tua dan kaka saya perempuan begitu penyayangnya terhadap barang-barang yang saya sudah tidak angap jelas lagi, setiap barang yang saya pilih untuk dibuang maka mereka periksa kembali dan mengambil barang-barang itu untuk jangan dibuang, lucu rasanya mengambil barang yang ingin dibuang tetapi karna sayang tidak jadi padahal tidak tahu akan digunakan untuk apa nanti, apakah akan digunakan atau tidak, dimana akan diletakkan hanya karna tidak rela membuang.

Bukankah seperti itu juga watak manusia??? Kita lebih tidak rela membuang hal-hal yang tidak berguna pada diri kita dibandingkan menyimpan hal-hal yang berguna untuk diri kita. Misalnya saja, pikiran positif dan negatif, kita pasti lebih sering menyimpan pikiran negatif pada diri kita, kita merasa sayang  membuang itu padahal tidak berguna, padahal tidak tahu digunakan untuk apa, kita letakkan begitu saja pada diri kita, sedikit demi sedikit hal-hal yang tidak berguna kita simpan, sayang kalau dibuang...pada akhirnya diri kita seperti tempat sampah, seperti gudang yang isinya lebih banyak barang tidak berguna daripada barang yang berguna, ketika kita memerlukan barang yang harus digunakan, kita sudah tidak bisa lagi membedakan mana barang yang layak terpakai dan mana yang tidak. Karena kita membiarkan diri kita menjadi gudang hal-hal yang tidak berguna, maka jadilah diri kita seperti ruangan yang tidak sedap dipandang mata, tidak terawat dan tidak berguna bagi orang lain.

Kalau sudah begitu, untuk apa lagi kita masih membiarkan diri kita terus menyimpan hal-hal yang tidak berguna bagi diri kita dan orang lain???bukankah kita sangat bodoh bila masih melakukan hal tersebut???...mari kita lihat kedalam diri kita masing-masing???...sudah menjadi ruangan seperti apakah diri kita???...

keep on growing friends.
Gbu all.

Tuesday, December 21, 2010

hadiah dari lelaki tua sederhana

Sewaktu saya telah menyelesaikan kuliah di bali dan harus kembali ke kampung halaman, saya terkejut karna saya begitu banyak menerima hadiah dari sahabat-sahabat saya. Saya tidak menyangka mereka begitu mau repot-repotnya ditengah kesibukan mereka (ada yang kuliah dan ada yang kerja juga) masih menyempatkan diri untuk menyiapkan hadiah/ pemberian untuk saya. Saya kira kepulangan saya ke kampung halaman akan seperti biasa-biasa saja, diantar sampai bandara lalu say goodbye, selesai. Ternyata begitu penuh kejutan dan yang paling tidak saya sangka, sungguh saya amat tidak menyangka adalah...

Pada waktu itu ada seorang sahabat saya yang sedang kedatangan ayahnya dan menginap di kosnya, beberapa kali saya menginap disana sebagai acara menginap perpisahan, kira-kira bisa disebut begitu. Tidak banyak hal yang dipercakapkan dengan lelaki tua itu (ayah teman saya), hanya percakapan sehari-hari. Tapi saya tahu, ia adalah orang tua yang sederhana dan rendah hati, karna dari sikapnya sehari-hari menunjukkan hal tersebut, tidak ada sisi ingin menampakan diri bahwa ia orang tua yang harus dihormati.

Saat akan berangkat ke bandara sahabat saya memberikan selembar kertas dibungkus plastik transparant dari ayahnya. Saya sangat terkejut menerimanya, senang, bangga (karna saya belum pernah menerima hadiah dari orang tua lain, selain dari orang tua saya), tidak percaya dan bingung (apa isi dari kertas itu). Saya sengaja langsung memasukkannya kedalam tas, karna saya ingin membacanya dirumah dan inilah isi surat itu :

Untuk nak yuli :
“Jangan takut maju sekalipun pelan karena orang yang pincangpun tak pernah akan berjalan mundur” (Kahlil Gibran, penyair kristen dr Libanon)

AMBILLAH WAKTU

Ambillah waktu untuk berpikir,
Itu adalah sumber kekuatan,
Ambillah waktu untuk bermain,
Itu adalah rahasia dari
Masa muda yang abadi
Ambillah waktu untuk membaca
Itu adalah sumber kebijaksanaan
Ambillah waktu untuk berdoa
Itu adalah kekuatan terbesar di bumi
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai
Itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan
Ambillah waktu untuk bersahabat
Itu adalah jalan menuju kebahagiaan
Ambillah waktu untuk tertawa
Itu adalah musik
Yang menggetarkan jiwa
Ambillah waktu untuk memberi
Itu adalah hari yang sangat singkat
Untuk kepentingan diri sendiri
Ambillah waktu untuk bekerja
Itu adalah nilai keberhasilan,
Ambillah waktu untuk beramal
Itu adalah kunci menuju sukses.

-pepatah tua Irlandia-

Surat yang sederhana tetapi amat tulus, tidak menggurui tetapi memotivasi saya, seakan-akan lelaki tua yang sederhana itu tau masa-masa seperti apa yang akan saya hadapi didepan nanti. Hadiah sederhana tetapi begitu bermakna dan sangat indah bagi saya. Hadiah dari lelaki tua yang sederhana, yang telah mengajarkan saya menghadapi hidup dengan cara yang sederhana.



Nb : terimakasih untuk om octa atas  hadiahnya yang slalu menguatkan saya dimasa ini dan di masa-masa nanti yang saya tidak tau seperti apa, tapi lewat hadiah om saya tau bagaimana menghadapi masa itu nantinya. Tuhan memberkati pelayanan om dan keluarga. Amin.



Saturday, December 18, 2010

malam minggu ala pengangguran


 
Duduk di depan meja belajar kayu ditemani notebook dan sahabat karibnya (modem) serta handphone disebelah kiri (standby kalo ada sms or telephone masuk, hampir mirip seperti operator), gelas teh yang sudah hampir habis isinya sambil mendengarkan lagu pelipur lara (king of convinience).
 
Mulai beraksi menghabiskan malam minggu ini ...
 
Tab pertama pada layar notebook adalah facebook (berguna sebagai obat penyemangat), tab kedua yahoo mail ( berguna sebagai sumber update informasi loker terbaru), tab ketiga google (berguna sebagai penambah kepintaran mengenai hal-hal yang diperlukan oleh sang pengangguran, misalnya kiat sukses wawancara, kiat sukses lulus physicotes dan kiat-kiat lainnya agar pekerjaan segera didapat), tab keempat twitter (untuk curhat lewat status yang ga butuh koment dari orang lain) dan tab kelima adalah blogspot (guna untuk menguatkan diri sendiri lewat tulisan sendiri yang dibaca sendiri dan untungnya ga niat buat kasih komen sendiri juga).
 
Duduk berganti-ganti posisi sambil membuka tutup tab-tab yang ada, kekamar kecil sebagai break dari sibuknya kegiatan malam ini, sampai pada akhirnya malam sudah larut, mata mulai lelah (sepet) dan sudah tidak tau lagi apa yang harus di cari pada dunia maya ini maka panggilan dari pulau kapuk pun semakin nyaring dan segera saja disambut dengan logout dari tab pertama, kedua dan seterusnya sampai men-shut down notebook tercinta, merapikan peralatan tempur (kabel-kabel, mouse, flashdisk dll) dan datang pada pelukan bantal (kegiatan terakhir seorang pengangguran menikmati malam minggunya).

Thursday, December 16, 2010

belum benar-benar mengenal

“Kita ga akan pernah benar-benar mengenal seseorang sebelum mengetahui kisah hidupnya”. Begitulah kesimpulan yang saya ambil dari kejadian hari ini.

Saya tidak ada rencana untuk keluar hari ini, hanya akan menjalankan rutinitas sehari-hari di rumah (karena saya sedang mencari pekerjaan). Entah kenapa saya ingin sekali menonton film di bioskop, mungkin juga karena sudah suntuk akut di rumah, lalu saya mengajak seorang teman saya untuk sama-sama menonton film karena biasanya saya pergi dengan dia, tetapi saya ingin sekali mengajak seorang teman yang juga teman lama saya dan selama saya pulang ke rumah saya belum pernah bertemu dengan dia dan selalu gagal bila janjian untuk ketemuan. Ternyata yang membalas sms saya terlebih dahulu adalah teman saya ini, yang sangat sulit sekali bertemu dengan dia.
Mumpung ada kesempatan, saya segera meluncur ketempat kami janjian, masih sama seperti yang dulu, bila kami ketemu...kami langsung saling mentertawakan satu sama lain...bukannya say hai atau berpelukan atau saling cium pipi kanan atau kiri seperti layakanya 2 wanita bila bertemu, kami hanya tertawa...tertawa dan tertawa..entah apa yang lucu, tapi kami begitu tertawa lepas...mungkin kami sama-sama berpikir...”gila...akhirnya ketemu juga ama nih orang”. Dia mengatakan bahwa wajah saya berubah !!!..Nah loh...saya tanya, apanya yang berubah?...dia bilang..”ga tau, muka lo beda aja...” dengan santai saya menjawab “iya, gw baru ganti casing”. Dan kami pun mulai larut berbincang-bincang dari yang paling ga penting sampai....
Sampai pada akhirnya, menuju ke sebuah perbicangan yang sejujurnya amat membuat saya terkejut. Dia mulai bercerita mengenai pacarnya yang dulu, yang saya juga tau kisahnya...tapi sebenarnya...saya belum benar-benar  tau...saya terus memperhatikan matanya saat berbicara, saya ingin melihat ekspresi sebenarnya dari yang ia katakan, matanya mulai berkaca-kaca, hampir meneteskan air mata dan saya mulai merasa “ada yang tidak beres”...
Dia menceritakan pengalaman buruknya, pengalaman yang benar-benar paling saya takuti atau mungkin yang paling tidak pernah diharapkan dari seorang wanita manapun, pengalaman yang akan memberi cap buruk pada si wanita tersebut bila hal itu terjadi dan pengalaman yang paling tidak  ingin dibagi kepada siapapun...saya tidak percaya bahwa hal itu terjadi pada sahabat saya sendiri, dia “dilecehkan” oleh pacarnya sendiri (mantan lbh tepatnya). Dalam hati saya amat sangat terkejut dan saya langsung berdoa “tolong kuatkan wanita ini,Tuhan”.
Dia yang begitu ceria dan cerewet, dia yang begitu narsis bahkan saya mengira dia tidak ada perubahan apa-apa, dia masih sama seperti sahabat yang dulu pernah saya kenal...ternyata..pernah melewati hal yang amat kelam dan buruk dan dia melalui itu sendirian, disaat masa-masa dia merasa diri kotor, masa-masa dia begitu membenci laki-laki yang dia cinta, laki-laki yang dia puja...masa-masa itu ia lalui seorang diri di tempat perantauannya dan baru sekarang ia menceritakannya pada orang lain selain dirinya sendiri...kepada saya, dada saya langsung sesak saat ia diam dan melihat matanya merah...saya hanya memegang lengannya dan mata saya pun berkaca-kaca...saya hanya mengatakan “lo,cewek kuat...gw ga nyangka lo ternyata cewek lebih kuat dari yang gw kira...”, dia menarik nafas memandang jauh dan dia mengatakan “itu udah gw lewatin,yul...”
Sekali lagi saya tlah melihat kekuatan seorang wanita dalam menjalani proses hidupnya, saya bukan dia dan dia bukan saya, tapi saya dan dia adalah wanita dan wanita memiliki ketangguhan yang amat sangat luar biasa dalam menanggung sesuatu...saat ia menyelesaikan masalahnya ia juga menolong orang lain...saat ia menanggung kesedihan ia juga menghibur orang lain...saat ia mengalami ketakutan ia juga tersenyum...

“Wanita bukan pendamping, tetapi penolong”.